fbpx

Apa Yang Harus Kita Lakukan Terhadap Keluarga Toxic?

Apa sih itu keluarga toxic? Emang keluarga bisa toxic yaa, gue kira hubungan aja?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan kayak gitu lagi ngumpul di dalam fikiran kamu ketika kamu baca judul dari artikel ini, jawabannya adalah iyaa, keluarga juga bisa toxic, terus keluarga yang kayak gimana sih yang disebut keluarga toxic? Ada beberapa poin yang membuat kenapa keluarga kamu bisa disebut toxic.

  1. Mudah marah

Marah sebenernya adalah hal yang wajar, dan bahkan kita memang wajib mengekpresikan marah kita jika memang seseorang berbuat salah, agar mereka mengerti dan paham tentang apa yang mereka lakukan, tapi lain halnya kalau marahanya itu sudah berwujud perlakuan fisik atau destruktif.

Marah yang disertai dengan perilaku destruktif atau fisik inilah yang menjadi salah satu ciri dari keluarga toxic. Beberapa orang atau keluarga seringkali mengkaitkan perilaku destruktif ini dengan cinta dan kasih sayang. Mereka seringkali beralasan bahwa perilakunya ini karena mereka mencintai kita, karena mereka tidak ingin kita menderita, padahal kenyataannya kita telah menderita dengan perilaku dari pengekspresian marah mereka.

  1. Bermasalah hukum

Penggunaan obat-obatan terlarang, pembunuhan, pencurian dan lainnya yang melanggar hukum adalah salah satu perilaku toxic. Bukan karena alasan pribadinya tetapi lebih kepada efek yang akan diberikan kepada kita sebagai anggota keluarga. Ada kemungkinan kita juga akan terkena dampak dari masalah yang mereka dapatkan, mungkin juga kita dianggap sebagai pengguna juga, atau malah bener-bener tertular menggunakan obat-obatan terlarang karena keluarga kita, atau kita menjadi pencuri juga dan lain sebagainya. Intinya adalah ketika salah satu anggota keluarga mengalami masalah dengan hukum dan kita menjadi terjerumus karenanya, itu menjadi salah satu perilaku toxic lainnya.

  1. Tidak pernah mengaku salah

Gimana sih rasanya punya keluarga yang gak bisa ngaku salah, atau gak mau disalahkan? Kita akan selalu menjadi target kesalahannya, padahal dia yang salah tapi kita yang harus ngalah dan disalahkan, kita yang harus menerima konsekuensinya. Keluarga seperti itu biasanya menjadi masalah tersendiri buat keluarga dan buat kita, terus gimana kalau yang kayak gitunya adalah orangtua kita? yaa sama. orangtua gak selamanya benar kok, terkadang mereka juga salah, dan ketika salah orangtua seharusnya mampu mengakui itu, meminta maaf dan memperbaikinya, agar tidak menjadi keluarga yang toxic.

  1. Tidak menjadi diri sendiri saat bersama keluarga

Idealnya kita harus benar-benar merasa nyaman dan aman ketika kita bersama keluarga kita. Kita harus bisa menjadi diri kita sendiri apa adanya, bukannya malah faking good, mencoba terlihat baik dimata mereka. Kondisi ini biasanya terjadi ketika kita tidak terbebani dengan tuntutan atau tekanan yang diberikan oleh keluarga.

Namun sebaliknya jika keluarga memberikan tuntutan yang besar kepada kita, kita akan menjadi orang lain, menjadi sosok yang ingin terlihat baik dimata keluarga, seperti yang diharapkan mereka. Jika ini terjadi, maka coba untuk diskusikan dan jujur kepada mereka, beritahukan kepada mereka bahwa kamu merasa terbebani dengan segala macam tuntutan itu dan merasa tidak nyaman berada di dalam keluarga. Jika mereka tidak paham dan malah memarahimu berarti mereka adalah keluarga yang toxic.

 

Nah terus apa yang harus kita lakukan buat keluar dari zona keluarga toxic ini, yang pertama yang harus kamu lakukan adalah komunikasi. Komunikasikan apa yang kamu mau dan enggak kamu suka, tentang rencana masa depan, tentang batasan dan tuntutan yang menurut kamu terlalu mengekang, dan tentang perilaku yang menurut kamu buruk dan berlebihan. Coba komunikasikan hingga kedua pihak bersepakat, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.

“Tolong digaris bawahi sampai kedua pihak sepakat ya!”

Setelah itu coba jalani untuk beberapa bulan, mungkin diawal ini akan sulit buat keluarga kamu, makalumi aja yaa. Wajar, namanya juga pembiasaan. Jangan lupa juga tentuin durasinya yaa. Peran kamu disini adalah untuk mengingatkan setiap kali keluarga kamu ngelakuin sikap atau perilaku toxicnya lagi. Ngingetinnya dengan cara yang baik, jangan sampai terkesan menggurui.

Nahh kalau tadi itu skenario baiknya, terus gimana kalau ternyata kamu dapet skenario buruknya nih. Ternyata dari sejak awal orangtua kamu gak mau diajak komunikasi, dan tidak memahami kondisi kamu.

Solusinya adalah tinggalkan!

Tinggalkan yang gue maksud dalam hal ini adalah buat jarak antara kamu dan keluarga. Berhenti menanggapi apa yang mereka lakukan, ketika keluarga kamu melakukan perilaku toxicnya lagi yaudah biarin aja, gak perlu dianggap, kalau perilaku toxicnya adalah bentuk serang fisik atau bentuk desktruktif lainnya yang merugikan kamu, tinggalin aja. Cari rumah buat kamu singgah, bisa nyewa kosan atau lainnya, atau kalau kamu ngerasa itu benar-benar sudah sangat keterlaluan coba laporkan kepada komnas perlindungan anak atau lembaga-lembaga yang fokus terhadap kekerasan rumah tangga. Jangan takut, kamu tidak salah kok. Kamu tidak berdosa juga, ini demi kebaikan kamu sendiri.

Karena Tugas Kamu adalah Bahagia, jadi jangan biarkan kamu merasa tersiksa dan tidak nyaman dengan keluarga kamu sendiri!