fbpx

 

Banyak orang beranggapan bahwa emosi negatif adalah seseuatu yang buruk jika dikeluarkan. Sedih, marah, benci, cemburu, dan emosi-emosi negatif lainnya, adalah sesuatu yang dirasa sangat tidak pantas jika diperlihatkan kepada umum, atau diketahui oleh orang lain. Pemikiran seperti itu seolah menjadi sebuah label pada diri setiap manusia, sehingga membuat kita ragu dan malu untuk mengekspresikan emosi negatif kita. jangankan ngeekspresiinnya, kadang malah diketahuiin sama orang kalau kita marah aja, kita bakal auto ngerasa gak enak. Ditambah lagi lingkungan yang tidak mendukung orang mengeluarkan emosi negatif, mereka bakal langsung ngelabel mereka dengan label-label kayak “baperan”, “cengeng”, atau “pemarah”.

Padahal sebenarnya baik emosi negatif maupun emosi positif, itu semua adalah hanya sebuah sensasi yang dihasilkan oleh pikiran kita ketika merespon suatu kejadian yang diterima oleh panca indra kita. yaa semuanya netral, ingetnya itu “sensasi dari respon”. Contohnya kayak gini :

Ketika kita disakiti oleh orang, misalnya disakiti secara fisik, dipukul. Tubuh kita akan memar, kulit akan merasa sakit, receptor pada kulit kita akan menerima sensasi itu dan menyalurkannya ke otak, otak akan merespon dengan mengirimkan sinyal, ke seluruh tubuh dan panca indra kita pun merespon. Responnya bisa beragam, ada yang memutuskan buat teriak, terus nangis, ada yang mutusin buat bales mukul, atau ada juga yang mutusin buat menahan emosi dan lari.

Apa pentingnya kita mengekspresikan emosi kita?

Ibaratnya sebuah balon yang diisi air, balon ini adalah fikiran kita, sedangkan air ini adalah emosi negatif yang kita miliki. Jika balon terus diisi oleh air secara terus menerus tanpa pernah mengeluarkannya, kira-kira apa yang akan terjadi?

Maka yang terjadi adalah suatu saat balon tersebut akan meledak dan mengeluarkan semua air yang ada di dalamnnya.

Begitu juga dengan fikiran kita, jika kita terus menerus mengisi fikiran kita dengan emosi negatif. Maka suatu saat itu akan melukai fikiran kita, dan membuat ledakan emosi yang besar. Mungkin kamu pernah ngeliat orang yang secara tiba-tiba marah enggak karuan, atau kamu pernah jadi bahan pelampiasan emosi pasangan kamu yang padahal masalahnya kecil, tapi kok marahnya besar banget yaa? Kalau kamu ngalamin itu coba deh tanyain ke doi, doi lagi ada masalah apa di kantor, atau di rumah?

Pasti gue yakin kalau kayaknya kemungkinan besar, doi emang habis kena masalah, terus doi pendem, dan lalu kamu jadi sasaran empuk buat pelampiasan amarahnya.

Nahh gak mau kan jadi pelampiasan amarah orang, atau kamu juga pasti gak mau dong marah-marah gak jelas ke orang enggak bersalah? Maka dari itulah penting banget buat kita untuk dapat mengekspresikan emosi yang kita miliki baik positif ataupun negatif. Gak usah di tahan, kalau emang lagi gak suka sama orang, atau sedih keluarin aja. Disakitin sama temen terus kamu gak suka, dan pengen marah, marah aja! Yaa kalau temen lu emang temen, yaa dia pasti minta maaf kok, bukannya malah balik marah, atau ngejudge kamu pemarah atau baperan.

Proses mengekspresikan emosi ini dikenal juga dengan istilah Katarsis yaitu proses melepaskan emosi yang dirasakan sebagai sarana pelepas ketegangan atau kecemasan.Lawannya adalah represi atau menahan diri. Nah tinggal kamu pilih mau mendem emosi, terus suatu saat meledak, atau mau ngeluarin emosi sesuai dengan posrsi dan kondisinya.

“Ketika sedih menangislah, ketika marah berteriaklah, ketika bahagia tertawalah. Jadilah seseorang yang jujur bahkan untuk dirimu sendiri.”